Wamendikdasmen Fajar: Sekolah Muhammadiyah Harus Ahsanu ‘Amala

Wamendikdasmen Fajar: Sekolah Muhammadiyah Harus Ahsanu ‘Amala

Smallest Font
Largest Font

BANJARNEGARA — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah harus menjadi ahsanu ‘amala atau amal terbaik yang manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

Pesan tersebut disampaikan Fajar saat menghadiri Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah di Wanayasa, Banjarnegara, Sabtu (21/6). Menurutnya, keberhasilan amal usaha pendidikan Muhammadiyah tidak cukup diukur dari jumlah sekolah yang dimiliki, melainkan dari kualitas layanan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat.

“Yang akan dilihat masyarakat bukan hanya berapa banyak sekolah Muhammadiyah, tetapi seberapa baik kualitas layanan yang diberikan. Dalam Al-Qur’an, yang ditekankan adalah ahsanu ‘amala, amal yang terbaik, bukan sekadar amal yang terbanyak,” ujar Fajar.

Ia menjelaskan, sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai sarana pencerahan, mobilitas sosial, sekaligus bentuk pengabdian kepada bangsa. Karena itu, sekolah Muhammadiyah dituntut menjadi teladan dalam mutu pembelajaran, tata kelola lembaga, akreditasi, kepemimpinan guru, serta keberpihakan kepada peserta didik dari keluarga kurang mampu.

Fajar yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) PP Muhammadiyah menekankan bahwa pendidikan merupakan jalan paling bermartabat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, orang tua mungkin tidak selalu mampu mewariskan harta kepada anak-anaknya, tetapi dapat mewariskan ilmu pengetahuan, karakter, dan masa depan yang lebih baik.

“Jangan sampai keterbatasan ekonomi dan sosial membatasi mimpi anak-anak kita untuk sekolah setinggi mungkin. Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak meninggalkan anak cucu dalam kondisi lemah, baik lemah secara pendidikan, ekonomi, maupun sosial,” tuturnya seraya merujuk pada QS. An-Nisa ayat 9.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar juga menyoroti pentingnya penguatan pendidikan menengah. Ia mengapresiasi aspirasi warga Muhammadiyah yang terus berupaya memperluas layanan pendidikan menengah guna meningkatkan akses pendidikan bagi lulusan SMP dan MTs.

Menurutnya, meningkatnya angka partisipasi pendidikan menengah akan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Pendidikan SMA, MA, SMK, dan jalur pendidikan yang setara harus terus kita dorong agar semakin banyak anak dapat melanjutkan pendidikan,” jelasnya.

Fajar juga menegaskan bahwa sekolah swasta, termasuk sekolah Muhammadiyah, tidak boleh dipandang sebagai pesaing sekolah negeri. Sebaliknya, sekolah swasta merupakan mitra strategis pemerintah dalam menjalankan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Ketika Muhammadiyah, NU, atau organisasi masyarakat lainnya mendirikan sekolah, keberadaannya harus dipermudah dan didukung karena turut membantu tugas negara,” katanya.

Ia menambahkan, filosofi Sang Surya mencerminkan karakter Muhammadiyah yang senantiasa memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang.

“Muhammadiyah itu seperti matahari yang menyinari siapa pun. Sekolah, klinik, rumah sakit, dan amal usaha Muhammadiyah hadir untuk semua, bukan hanya untuk warga Muhammadiyah. Inilah bentuk khidmat Muhammadiyah untuk negeri,” ujarnya.

Usai pengajian, Fajar melanjutkan agenda sebagai pembicara kunci dalam Seminar Pendidikan yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purbalingga. Di hadapan para guru, kepala sekolah, dan aktivis pendidikan, ia menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Abdul Mu'ti terus berupaya mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto agar pendidikan bermutu dapat dirasakan seluruh anak Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan guru.

Dalam forum tersebut, Fajar turut menyinggung kebijakan redistribusi guru ASN, baik PNS maupun PPPK, yang diatur melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pemerataan layanan pendidikan berkualitas, termasuk di satuan pendidikan yang dikelola masyarakat.

“Redistribusi guru bukan sekadar memindahkan guru, tetapi memastikan anak-anak mendapatkan layanan pendidikan yang lebih adil dan pembelajaran yang bermutu. Dengan semangat partisipasi semesta yang melibatkan berbagai kementerian, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya, kita berharap distribusi guru yang lebih berkeadilan dapat terwujud sehingga pendidikan bermutu untuk semua benar-benar dapat dirasakan,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow