Muhammadiyah dan Delegasi RCDS Inggris Bahas Ketahanan Iklim hingga Perdamaian Global
JAKARTA — Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, konflik geopolitik, dan polarisasi global, Muhammadiyah menerima kunjungan delegasi Royal College of Defence Studies (RCDS) Inggris dalam forum strategis bertajuk Interfaith Engagement, Climate Resilience, and Humanitarian Collaboration di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (19/5).
Forum tersebut mempertemukan tokoh keagamaan, diplomat, pejabat sipil, hingga perwira tinggi militer dari berbagai negara untuk membahas tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari krisis iklim, isu kemanusiaan, hingga penguatan kohesi sosial lintas agama dan lintas negara.
Sebanyak 20 delegasi RCDS hadir dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari Inggris, Italia, Jerman, Belanda, Nigeria, Kuwait, Ukraina, Norwegia, Selandia Baru, Kazakhstan, dan Irak. Kehadiran mereka merupakan bagian dari pendidikan strategis tingkat tinggi yang mempertemukan pemimpin militer dan sipil global guna memperkuat kolaborasi internasional.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, M.A., menegaskan bahwa isu kemanusiaan, dialog antaragama, dan perubahan iklim merupakan tantangan bersama yang tidak dapat diselesaikan secara parsial.
“ Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang terinspirasi oleh ajaran Islam, tetapi manfaat gerakannya tidak hanya dirasakan umat Muslim, melainkan seluruh umat manusia,” ujarnya.
Prof. Syafiq, yang membidangi Hubungan dan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah, menjelaskan bahwa Muhammadiyah yang berdiri sejak 1912 kini telah berkembang menjadi gerakan global dengan cabang istimewa di 30 negara serta delapan organisasi saudara di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, organisasi keagamaan memiliki tanggung jawab moral untuk membangun perdamaian dunia dan memperkuat solidaritas kemanusiaan.
“Kami berharap suatu hari nanti dapat kembali bertemu, baik di Jakarta maupun di Yogyakarta, untuk saling belajar lebih jauh tentang Muhammadiyah dan Royal College of Defence Studies,” katanya.
Dari pihak Inggris, Air Vice-Marshal Tamara Jennings menyampaikan apresiasi atas kontribusi Muhammadiyah dalam isu kemanusiaan dan pembangunan perdamaian global.
“Atas nama Royal College of Defence Studies, kami menyampaikan penghargaan atas kontribusi Muhammadiyah dalam membangun perdamaian dan keamanan dunia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, RCDS yang berdiri sejak 1927 berfokus pada penguatan pemahaman strategis lintas sektor guna mendukung stabilitas global melalui kolaborasi internasional.
“Kami tidak hanya terdiri dari kalangan militer, tetapi juga sipil dan berbagai sektor industri. Walaupun berbasis di London, lembaga kami bersifat internasional,” tambahnya.
Salah satu sesi utama dalam forum tersebut menghadirkan presentasi Program 1000 Cahaya Muhammadiyah yang disampaikan Hening Parlan, Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah sekaligus Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Hening menegaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan masa depan generasi muda.
“Daripada hanya mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin yang memberi cahaya,” ujarnya.
Program 1000 Cahaya Muhammadiyah mendorong efisiensi dan transisi energi bersih melalui sekolah, pesantren, masjid, cabang dan ranting Muhammadiyah, hingga komunitas akar rumput. Program ini juga menghadirkan solusi konkret berbasis masyarakat dalam menghadapi krisis iklim.
Muhammadiyah memandang transisi energi tidak sekadar perpindahan menuju energi baru dan energi hijau, tetapi juga bagian dari amanah keagamaan untuk menjaga bumi berdasarkan nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Dalam kerangka tersebut, Muhammadiyah memperkenalkan konsep energy from heaven atau “energi dari surga”, yang menekankan bahwa energi merupakan anugerah Tuhan yang harus dikelola secara adil, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.
Untuk memperkuat landasan etis dan keagamaan, Muhammadiyah juga mengembangkan pendekatan fikih transisi energi berkeadilan sebagai panduan memahami perubahan energi bukan hanya sebagai isu teknis, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual.
Menurut Hening, transisi energi tidak boleh menjadi isu elite semata, melainkan harus dapat diterapkan hingga tingkat komunitas.
Melalui pendekatan Eco Bhinneka Muhammadiyah, generasi muda lintas iman dan masyarakat adat turut dilibatkan dalam aksi lingkungan bersama.
“Salah satu contohnya di Ternate, Maluku Utara, di mana pemuda lintas iman bekerja bersama dalam aksi bersih pantai. Perdamaian tidak cukup hanya melalui dialog, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata bersama,” jelasnya.
Sementara itu, Abdoel Malik dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memaparkan pengalaman Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana dan operasi kemanusiaan.
“Dalam setiap operasi kemanusiaan, MDMC melayani siapa pun tanpa memandang agama, etnis, atau latar belakang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman tsunami Aceh 2004 dan gempa Yogyakarta 2006 menjadi titik penting lahirnya MDMC pada 2007 sebagai lembaga kebencanaan modern Muhammadiyah.
Dalam sesi diskusi interaktif, delegasi RCDS mengajukan berbagai pertanyaan terkait pluralisme, energi bersih, dan kerja kemanusiaan lintas agama.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Syafiq menegaskan bahwa Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam moderat yang aktif mempromosikan toleransi, multikulturalisme, dan perdamaian, termasuk melalui keterlibatan dalam dialog internasional serta kerja sama lintas komunitas di Indonesia dan Filipina Selatan.
Delegasi juga menyoroti tantangan perubahan paradigma masyarakat terkait energi. Hening menjelaskan bahwa Muhammadiyah mengembangkan pendekatan edukasi berbasis nilai agama, termasuk melalui pengembangan fikih transisi energi berkeadilan.
Pertemuan ini menegaskan semakin pentingnya peran organisasi masyarakat sipil dan keagamaan dalam percakapan global mengenai masa depan dunia. Di tengah krisis iklim dan ketidakpastian geopolitik, kolaborasi berbasis nilai spiritual, kepemimpinan etis, dan aksi sosial dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun dunia yang lebih damai, tangguh, dan berkeadilan.
Kegiatan ditutup dengan pertukaran cendera mata dan sesi foto bersama sebagai simbol persahabatan sekaligus komitmen memperkuat dialog strategis antarbangsa demi masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow