Cemas Bareng Akhir Tahun, Muda-Mudi Muhammadiyah Ngaglik Bahas Mental Health dalam Kajian

Cemas Bareng Akhir Tahun, Muda-Mudi Muhammadiyah Ngaglik Bahas Mental Health dalam Kajian

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Ngaglik bersama Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Ngaglik menggelar KAKILIMA (Kajian Keliling Lintas Kampung dan Masjid) pada malam pergantian Tahun Baru, Selasa (31/12) malam. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi akhir tahun dengan mengangkat isu kesehatan mental di tengah era ketidakpastian.

Acara tersebut digelar di Gedung Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) PP Muhammadiyah, Jalan Kaliurang Km 8, Sleman. Kegiatan diikuti lebih dari 60-an kader muda Muhammadiyah Ngaglik dan masyarakat sekitar dengan suasana diskusi yang terbuka.

Pada edisi kali ini, panitia menghadirkan Lya Fahmi, seorang influencer, psikolog sekaligus Kader Nasyiatul Aisyiyah yang dikenal luas melalui konten edukasi kesehatan mental di media sosial. Lya Fahmi sebelumnya viral lewat konten Instagram yang membahas fenomena psikolog menerima klien dengan stres bukan semata persoalan pribadi, melainkan dampak persoalan negara, khususnya krisis kepercayaan kolektif antara warga negara dan pemerintah.

Dalam pemaparannya, Lya menyampaikan bahwa kondisi saat ini menunjukkan eskalasi tekanan emosional yang lebih serius. “Rasa cemas, marah, lelah, dan emosi itu adalah hal yang wajar di era saat ini. Kita setiap hari terpapar begitu banyak berita dan situasi yang tidak pasti,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa belakangan mulai ada klien yang datang dalam kondisi emosional sejak awal sesi konseling. Salah satunya bahkan langsung menangis dan menyampaikan rasa putus asa sebagai warga negara.

“Kalau melihat cara pemerintah menangani korban bencana di Sumatera, aku merasa seolah rakyat ini tidak ada harganya. Tidak didengarkan, diabaikan pula. Putus asa sekali rasanya jadi WNI,” tutur Lya menirukan pernyataan kliennya.

Menurut Lya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental kini tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan kolektif. Karena itu, ruang-ruang kebersamaan menjadi penting agar individu tidak menghadapi beban psikologis secara sendirian.

Ketua PCPM Ngaglik, Muhammad Zulfi Ifani, menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan. “Di era seperti sekarang, kita harus bersatu dan sering-sering berkumpul. Kebaikan akan jauh lebih solid ketika dijalankan dalam satu barisan.,” katanya.

Melalui KAKILIMA, PCPM dan PCNA Ngaglik berharap kader muda Muhammadiyah tetap sehat secara mental, saling menguatkan, dan mampu terus berkontribusi bagi masyarakat di tengah dinamika sosial yang kompleks.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow