Arif Jamali Muis Pesankan Guru-Guru Muhammadiyah Untuk Berkembang: Growth Mindset itu DNA Persyarikatan!

Arif Jamali Muis Pesankan Guru-Guru Muhammadiyah Untuk Berkembang: Growth Mindset itu DNA Persyarikatan!

Smallest Font
Largest Font

BANTUL - "Saya memahami growth mindset itu adalah bagian dari DNA Muhammadiyah. Kita sebagai guru, yang adalah kader Muhammadiyah, harus punya karakter seperti ini. Persyarikatan kita ini cara berfikirnya adalah tumbuh, tidak mudah patah arah, dan tidak mudah menyerah," begitu Arif Jamali Muis, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY sekaligus staf khusus Kemendikdasmen, membuka sesi pembinaan Guru dan Tenaga Kerja MTs Muhammadiyah Kasihan, Jumat (19/9).

Acara dengan tema "Membangun Madrasah Unggul dengan Growth Mindset" tersebut dihadiri oleh Ridwan Furqoni, Kepala Sekolah MTs Muhammadiyah Kasihan yang juga wakil ketua PWM DIY, Eti Nurhayati selaku pengawas Madrasah, dan sekitar 20 Guru dan Tenaga Kerja MTs Muhammadiyah Kasihan.

Menurut Arif, growth mindset sejatinya berakar dari ajaran Islam. Dalam Islam tidak boleh berburuk sangka, karena hal itu dosa. Tidak boleh juga berpikir sekolah ini tidak bisa maju. "Dan juga tidak boleh berpikir anak-anak yang kita didik tidak bisa berkembang. Maka growth mindset adalah bagian dari agama kita,” ungkapnya.

Arif menekankan bahwa untuk seorang guru, growth mindset bisa diaplikasikan di mana saja. Lebih jauh, ia mengisahkan pengalamannya saat menjadi guru. Saat mengajar di SMAN 5 Yogyakarta, Arif pernah mendukung seorang siswanya yang memilih melanjutkan studi ke program studi seni rupa sedang tren saat itu siswa kebanyakan mendaftar di kedokteran atau teknik.

"Ketika ditanya, dia malu-malu karena teman-temannya banyak yang memilih UGM atau UI. Saya bilang kepadanya, keren sekali pilihanmu. Ternyata ucapan itu membangkitkan semangatnya untuk masuk ISI, dan akhirnya dia berhasil diterima. Dia bahkan mengirim surat terima kasih karena merasa saya salah satu guru yang menghargai pilihannya,” kenang Arif.

Dari pengalaman itu, Arif menekankan bahwa guru harus mampu membangkitkan semangat anak didik agar mau belajar dan menemukan jati dirinya. “Guru itu tidak hanya mengajar, tapi membangkitkan motivasi anak-anak. Dan itu tidak instan. Itulah growth mindset,” tambahnya.

Mengambil teladan dari KH Ahmad Dahlan, Arif menjelaskan bahwa pendiri Muhammadiyah tidak memiliki fixed mindset. “Kiai Dahlan tidak berhenti hanya karena sudah mengajar di sekolah elite Budi Utomo. Beliau justru gelisah, lalu mendirikan sekolah untuk anak-anak terlantar di Kauman. Mereka tidak disuruh sholat dulu, tapi dimandikan, diberi makan, baru disekolahkan. Dari penerjemahan Al-Ma’un inilah lahir PKU, sekolah-sekolah, hingga perguruan tinggi Muhammadiyah,” jelasnya.

Terakhir, staf khusus Kemendikdasmen tersebut, berpesan kepada guru-guru  Muhammadiyah untuk harus memiliki kegelisahan yang sama dan tidak boleh berdiam diri. Ia mengingatkan bahwa kesejahteraan guru Muhammadiyah bukan berasal dari pimpinan persyarikatan, melainkan dari kepercayaan masyarakat.

“Kalau bapak-ibu ingin sejahtera, jangan berharap dari PWM atau PP Muhammadiyah, karena uangnya tidak ada di sana, uangnya ada di kantong jamaah. Kalau sekolah diminati masyarakat, otomatis kesejahteraan guru juga akan meningkat,” katanya.

"Kita tumbuh dari bawah, besar dari bawah, tapi jangan lupa itu semua karena nama Muhammadiyah. Maka insan kreatif dengan growth mindset harus bersemangat bersama-sama. Growth mindset itu semangat berpikir risalah islam berkemajuan, semangat untuk terus tumbuh,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow