News

News

MediaMU.COM

Jun 24, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Inilah Peran AMM dalam Penanganan Covid-19

Kader AMM banyak terlibat dalam Tim MCCC untuk Pemulasaraan Jenazah di tiap dareah.

JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang berjalan di tahun kedua telah mengubah banyak hal di seluruh lapisan masyarakat, termasuk lingkungan Muhammadiyah. Dalam acara Refleksi Akhir dan Awal Tahun Penanganan Covid-19 yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama PP Muhammadiyah, Senin (27/12), para Ketua Umum Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) tingkat pusat memberikan paparan tentang yang sudah dilakukan selama pandemi.

Dengan tema “Menyongsong 2022: Pemuda Penggerak Kebangkitan Pasca Pandemi” webinar menghadirkan narasumber Sunanto (Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah), Dyah Puspitarini (Ketua Umum PP Nasyiatul ‘Aisyiyah), Abdul Musawir Yahya (Ketua Umum PP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), Nashir Efendi (Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah), dan Ika Ardina (Manager Komsospol Tim Komunikasi Publik KPCPEN).

Refleksi dibuka dengan pidato pembuka Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) PP Muhammadiyah Dr. Agus Samsudin, M.M. dan Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kominfo, Dr. Hasyim Gautama, M.Sc.

Menurut Sunanto, Pemuda Muhammadiyah (PM) sebagai bagian dari persyarikatan telah berkontribusi dalam penanganan Covid-19. Beberapa kader PM ergabung dalam MCCC sebagai gugus tugas resmi yang diamanahkan PP Muhammadiyah. PP Pemuda Muhammadiyah juga membentuk Gugus Muda Pemuda Muhammadiyah.

“Karena MCCC tidak mungkin bisa menampung semua kader Pemuda Muhammadiyah. Gugus pemuda ini untuk menopang dan melakukan percepatan gerakan yang dilakukan oleh MCCC,” jelasnya.

Selain melakukan pencegahan, kader PM juga berperan menjadi agen penjelas atau duta kepada masyarakat. Hal Ini menjadi sangat penting, karena isu Covid-19 tak semua dipahami atau ditindaklanjuti semua publik secara keseluruhan.

Pemuda Muhammadiyah aktif dalam pemakaman jenazah pasien Covid-19. KOKAM hadir untuk membantu memakamkan pasien.

Meski begitu, Cak Nanto menyampaikan kritik bahwa penanganan covid tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Komunikasi antara pemerintah dengan gugus tugas masih simpang siur, bahkan kebijakan bisa berubah-ubah tergantung koordinatornya.

“Kami juga mengingatkan agar sosialisasi kepatuhan protokol kesehatan tetap dijalankan serta optimalisasi vaksinasi di seluruh masyarakat dan batasi akses agar virus tidak menyebar kemana-mana,’ jelas Cak Nanto.

Ketua Umum PP IPM Nashir Efendi memaparkan bahwa IPM selama pandemi Covid-19 fokus pada isu pelajar atau pendidikan. Berdasarkan data yang diperoleh, ada sekitar 8,7 juta yang terdampak Covid-19, selain menderita segi kesehatan, hak-hak sosial, waktu bermain dan interaksi menjadi terampas.

“Karena itu IPM berupaya mengembalikan semangat belajar para pelajar, mengingat mereka juga kehilangan koneksi, kemampuan kognisi dan keterampilan. Itulah yang menjadi isu besar pada periode ini dan seterusnya,” papar Nashir.

Pada periode 2021-2023, IPM memiliki sejumlah agenda antara lain Gerakan Yatim Berdaya. Gerakan tersebut diluncurkan mengingat banyak pelajar Muhammadiyah menjadi korban dan kehilangan orangtua atau keluarganya.

Diyah Puspitarini menjelaskan focus Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) selama pandemi adalah perempuan dan anak sebagai kalangan yang cukup banyak terdampak. Di tahun 2021 pada bulan Juni hingga Juli angka kematian perempuan termasuk ibu hamil serta anak-anak sangat tinggi.

PP NA selama pandemi juga tetap berfokus pada dua hal. Pertama, roda organisasi harus tetap berjalan namun harus bisa beradaptasi dengan keadaan. Di setiap kegiatan, harus fokus pada penanganan covid.

Fokus kedua adalah penanganan pandemi, terdiri dari tiga tahap: pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi yang menyasar pada empat aspek kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Sementara itu, IMM fokus pada objek dari pandemi itu sendiri, yakni masyarakat. Karena itulah di awal tahun 2020, saat pertama kali diserang Covid-19, IMM turut membagikan sembako di desa binaan di Jakarta dan sekitarnya.

IMM pun aktif dalam menangani objek luar pandemi dari berbagai segi, mulai perkaderan, ekonomi, politik, dan sosial. Untuk perkaderan idealnya IMM mengkader sampai 50.000 – 60.000 per tahun. Selama pandemi turun drastis di bawah 50 persen.

“Akhirnya, kita mencari solusi agar perkaderan tetap jalan selama pandemi,” ujar Abdul.

Terkait pemulihan ekonomi, DPP IMM mengimbau dan mendampingi beberapa komisariat dan cabang untuk turun ke desa memberikan edukasi pembentukan UMKM. “Kami mengingatkan pemerintah dan AMM agar jangan hanya memikirkan subjek, juga objek,” tegasnya.

Keberadaan organisasi kemasyarakatan, dalam hal ini Muhammadiyah, diakui Ika Ardina sangat dibutuhkan. Pemerintah tidak bisa menangani pandemi sendirian. Karena itu, dia mengapresiasi gerakan AMM serta berharap bisa berkoordinasi dan berkolaborasi agar pesan pemerintah bisa sampai ke masyarakat. (*)

Wartawan: Dzikril Firmansyah Atha Ridhai
Editor: Heru Prasetya

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here